GERAKAN TERPADU KECAMATAN TEGALREJO ATASI STUNTING
(GETUK TALAS)
GERAKAN TERPADU KECAMATAN TEGALREJO ATASI STUNTING
(GETUK TALAS)
Gambaran Umum
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan (pertumbuhan tubuh dan otak) pada anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi jangka panjang. Kekurangan gizi pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia dini dapat menghambat perkembangan(Rozi et al., 2023).
Upaya untuk menurunkan prevalensi stunting saat ini dilakukan melalui dua intervensi yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Intervensi gizi spesifik adalah intervensi yang sasarannya langsung kepada rumah tangga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan. Sedangkan intervensi gizi sensitif adalah intervensi yang ditujukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat umum, tidak khusus untuk rumah tangga 1.000 HPK. Kementerian PPN/Bappenas telah menetapkan 5 pilar penanganan stunting di indonesia yaitu komitmen dan visi pemimpin, kampanye nasional berfokus pada perubahan perilaku, konvergensi/koordinasi dan konsolidasi program pusat, daerah dan desa, ketahanan pangan bergizi (nutritional food security) dan pemantauan/evaluasi. Permen PPN/Bappenas No.1 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Pangan dan Gizi dan penyusunan Pedoman Pelaksanaan Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi di Tingkat Kabupaten/Kota. TNP2K Bappenas juga telah menerbitkan Panduan Konvergensi Program Kegiatan Percepatan Pencegahan Stunting sebagai panduan pelaksanaan penurunan stunting. Keberhasilan penurunan stunting di sebuah negara di perlukan upaya serius, terintegrasi dan konsisten dalam kurun waktu yang cukup lama(Kemenkes RI, 2018).
Masalah gizi khususnya kekurangan gizi, di Kabupaten Magelang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Terjadinya masalah gizi disebabkan oleh banyak faktor, baik penyebab secara langsung , tidak langsung maupun penyebab dasar (akar masalah). Berbagai masalah (kemiskinan, ketidaktahuan, pola asuh, bencana alam, ketersediaan pangan, dan ketersediaan pelayanan kesehatan yang berakar pada kebijakan ekonomi dan politik merupakan masalah utama dan mendasar. Masalah tersebut berdampak pada masalah konsumsi gizi ( malnutrition) bukan hanya masalah kelebihan gizi (overmalnutrition) atau dikenal dengan gizi ganda (double burden).
Keadaan gizi masyarakat di wilayah Kecamatan Tegalrejo berdasarkan hasil Penimbangan Serentak bulan Pebruari pada tahun 2025 dengan indikator BB/U diperoleh data balita status BB sgt kurang 1.3%, BB Kurang 11.32%, BB Normal 82.52%, dan Risiko Lebih 4.86%. Dengan indikator TB/U terdapat balita dengan status gizi sangat pendek 2.48%, pendek 15.22%, normal 82.31% dan tinggi 0%. Sedangkan dengan indikator BB/TB terdapat balita dengan status gizi buruk 0%, gizi kurang 3.96%, Normal 84.6%, berisiko gizi lebih 8.3%, Gizi Lebih 2.18% dan Obesitas 2.05%. Jika permasalahan gizi seperti stunting, wasting dan underweight tidak diatasi maka akan berdampak pada rendahnya tingkat kesehatan di wilayah Tegalrejo.
Bahwa untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas maka perlu dilakukan Gerakan terpadu dari semua pihak, lembaga ataupun masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Tegalrejo.
II. Tujuan Umum dan Tujuan Khusus
Tujuan umum Gerakan Terpadu Kecamatan Tegalrejo Atasi Stunting (Getuk Talas): untuk mencegah dan mengatasi stunting melalui pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai sektor dan pemangku kepentingan
Tujuan khusus Gerakan Terpadu Kecamatan Tegalrejo Atasi Stunting (Getuk Talas):
· Menurunkan prevalensi stunting:
Gerakan ini bertujuan untuk mencapai target penurunan angka stunting sesuai dengan target nasional, misalnya di bawah 14% pada tahun 2024.
· Mencegah stunting baru:
Fokus pada pencegahan stunting melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif, serta edukasi kepada kelompok sasaran seperti remaja putri, calon pengantin, ibu hamil, dan ibu menyusui.
· Memperbaiki status gizi:
Melakukan intervensi untuk memulihkan kondisi gizi anak-anak yang mengalami stunting, wasting, atau underweight.
· Meningkatkan kesadaran:
Memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang, pemenuhan gizi pada 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan), dan dampak stunting.
· Mengoptimalkan konvergensi:
Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar berbagai sektor (lintas sektor) dan program (lintas program) untuk memastikan intervensi stunting berjalan efektif dan tepat sasaran.
· Meningkatkan pelayanan:
Meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan kesehatan terkait gizi, terutama di fasilitas kesehatan seperti posyandu.
· Membangun komitmen:
Meningkatkan komitmen dan kapasitas seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat, dalam upaya percepatan penurunan stunting.
· Menciptakan generasi unggul:
Tujuan akhir dari gerakan ini adalah untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, dan berkualitas.